Rabu, 22 Februari 2017

MAKALAH : PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETERNAK SAPI SKALA KECIL DI DESA CEPOGO, BOYOLALI MELALUI PROGRAM PEMBUATAN PUPUK KANDANG INSTAN

MAKALAH : PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETERNAK SAPI SKALA KECIL DI DESA CEPOGO, BOYOLALI MELALUI PROGRAM PEMBUATAN PUPUK KANDANG INSTAN

      A.   Komunitas Peternak Sapi
Boyolali adalah sebuah kabupaten kecil yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan dikenal dengan sebutan kota susu, karena merupakan sentra peternakan sapi perah  terbesar di Jawa Tengah dan komoditas susu sapinya mampu mengharumkan Kabupaten Boyolali di tingkat Nasional.
Sebagian besar wilayah Boyolali merupakan dataran tinggi yang memiliki hawa sejuk sehingga cocok untuk dijadikan tempat budidaya sapi perah. Selain itu ketersediaan pakan hijau yang melimpah juga sumber air bersih membuat Boyolali sangat pas untuk dijadikan sentra peternakan sapi perah, contohnya seperti di Desa Cepogo.  
Masyarakat yang berternak sapi perah memiliki ketergantungan yang tinggi pada GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) dimana salah satu anggota koperasi, yakni PT. NUSAMBA Jakarta, sangat menentukan dalam pengambilan keputusan. Harga susu cenderung ditentukan sepihak oleh GKSI. Sehingga apabila harga susu menurun drastis, tentu peternak – peternak kecil yang hanya memelihara 2-4 sapi per KK akan sangat dirugikan. Para peternak kecil yang hanya mengandalkan penghasilan dari memerah susu sapi mereka yang jumlahnya pun hanya sedikit, maka mereka tidak akan memiliki tambahan penghasilan apabila hanya mengandalkan hasil penjualan susu sapi tersebut.
Para peternak sapi perah skala kecil di Desa Cepogo, Boyolali dipilih sebagai komunitas yang akan diberdayakan karena masih ada sebagian warga masyarakatnya yang berada dibawah garis kemiskinan. Sebagian dari mereka bekerja sebagai buruh maupun peternak sapi perah skala kecil yang harga jual hasilnya masih terbilang sangat kecil.  
     B.   Kearifan Lokal Peternak Sapi
1.    Di desa Cepogo Boyolali terdapat suatu kebiasaan dimana masyarakatnya gemar memelihara sapi sehingga kabupaten boyolali sangat terkenal akan produk susunya. Kebisaan ini ternyata tidak semata-mata untuk tujuan komersial saja namun juga bermanfaat dalam upaya konservasi sumber daya alam khususnya sumber daya pangan di Kabupaten boyolali.
2.    Selain kearifan lokal masyarakat Desa Cepogo Boyolali yang beternak sapi ini, mereka juga telah mengolah setiap hasil yang didapat dari memelihara ternaknya. Makna dari kearifan lokal ini ialah pengembangan sumber daya manusia, contohnya seperti masyarakat yang sudah memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk organik dan sebagian dari mereka juga sudah ada yang mengolahnya menjadi biogas.
     C.   Usulan Program Pemberdayaan Komunitas
1.    Nama Program
Dengan potensi Kabupaten Boyolali dan keadaan sosial ekonomi para peternak sapi skala kecil di daerah tersebut serta kebiasaan para peternak yang memanfaatkan segala yang didapat dari alam, termasuk limbah kotoran ternaknya yang hanya digunakan sebagai pupuk bagi tanaman kebun mereka sendiri sehingga tidak memiliki nilai jual yang tinggi. Oleh karena itu kami memiliki sebuah program untuk memberdayakan para peternak tersebut melalui Program Pembuatan Pupuk Kandang Instan.
2.    Tujuan Program
Program ini bertujuan untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi semakin mandiri dan semakin melek teknologi dalam mengolah limbah kotoran sapinya Agar limbah kotoran sapi ternak mereka dapat diolah menjadi pupuk kandang yang lebih praktis dan memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik untuk tanah . Selain itu, pupuk kandang yang telah diolah tersebut bisa dijual sehingga dapat meningkatkan penghasilan para peternak sapi melalui pengolahan pupuk kandang instan tersebut.
3.    Sasaran Program
Program ini ditujukan kepada para peternak sapi perah dalam skala kecil di Desa Cepogo Boyolali.
4.    Deskripsi Pelaksanaan Program
Program Pembuatan Pupuk Instan meliputi sosialisasi kepada warga mengenai pupuk kandang instan, cara pembuatan, pengenalan alat,  cara penggunaan alat, promosi dan pemasaran produk pupuk kandang instan. Rincian dari program tersebut yakni, penyampaian tentang kelebihan dari pupuk kandang instan, cara pembuatan produk pupuk instan, hingga prospek keuntungan dari produk pupuk instan yang akan diproduksi, hal ini disampaikan ketika sosialisasi diselenggarakan. Selain sosialisasi, warga yang diberdayakan diberikan bantuan berupa alat pembuatan pupuk instan dan dibekali cara pengolahan serta penggunaan alat. Para peternak akan dibimbing dalam pelakasanaan program tersebut. Agar program ini dapat berjalan sesuai harapan, sangat diperlukan partisipasi dari para peternak itu sendiri.

D.   Tahap – Tahap Pemberdayaan Komunitas
1.    Awakening
Pada tahap ini masyarakat disadarkan akan kemampuan sikap dan keterampilan yang dimiliki serta rencana dan harapan akan kondisi mereka yang lebih baik dan efektif dengan melalui sosialisasi dan penyuluhan kepada para peternak sapi mengenai manfaat kotoran sapi. Disamping dapat gunakan sebagai biogas tetapi juga dapat dijadikan pupuk kandang instan yang siap pakai digunakan serta ramah lingkungan untuk diaplikasikan ke berbagai macam jenis tanaman.
Selanjutnya diadakan pengenalan terhadap alat-alat serta badan-badan yang turut berkontribusi dalam program pembuatan pupuk instan di Kabupaten Boyolali. Dengan tahap ini, diharapkan para peternak sapi tidak gagap terhadap teknologi baru yang akan digunakan, mengingat sebelumnya para peternak hanya mengolah kotoran sapi secara manual menggunakan alat yang masih tradisional. Kemudian para peternak bisa bekerja sama dengan badan-badan yang turut berkontribusi.
2.      Pemahaman (understanding)
Selanjutnya para peternak sapi diberi pemahaman lebih jauh dari tahap penyadaran dengan diadakan berbagai macam pelatihan terhadap peternak sapi, mulai dari cara pemeliharaan sapi sampai sapi tersebut menghasilkan kotoran yang terbaik. Pelatihan difokuskan dalam penggunaan dan pengelolaan pupuk serta pendistribusian hasil produk. Dalam tahap ini, kami akan melakukan pembelian alat-alat yang dibutuhkan selama proses pelatihan dan kami akan menyumbangkan alat-alat ini kepada peternak secara gratis. Dengan demikian peternak hanya perlu untuk fokus pada pelatihan program, tanpa perlu memikirkan mengenai bagaimana mereka dapat membeli alat tersebut untuk kedepannya nanti.
3.    Harnessing
Pada tahap ini rencana yang telah disusun selama tahap pelatihan sebelumnya akan diimplementasikan dalam tindakan yang konkret. Para peternak mulai menerapkan segala bentuk pelatihan yang telah mereka jalani. Peralatan pengolahan pupuk telah diberikan secara gratis kepada masyararakat yang menernak sapi untuk kemudian mereka gunakan untuk mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kandang siap pakai. Para peternak mulai menyetorkan hasil pupuk mereka kepada pihak swasta yang berperan sebagai distributor untuk segera didistribusikan ke pihak-pihak yang membutuhkan hasil produk mereka.
4.    Menggunakan Ketrampilan (Using)
Pada tahap ini masyarakat mulai menggunkan ketrampilannya dalam pembuatan pupuk kandang instan sebagai penunjang kehidupan mereka. Masyarakat memiliki mata pencaharian baru. Setiap bulannya mereka mengadakan pertemuan rutin untuk mengevaluasi kinerja mereka dalam sebulan.

E.     Pihak-Pihak Pelaksana Pemberdayaan Komunitas
1.    Pemerintah
Peran pemerintah dalam pemberdayaan ini yaitu menetapkan kebijakan komunitas pengolahan pupuk kandang instan, pendanaan biaya pelaksanaan program tersebut, formulasi, implementasi, monitoring dan evaluasi. 
2.    Swasta
Dalam kaitannya dengan program ini, pihak swasta berperan sebagai distributor produk pupuk yang dihasilkan. Melalui distributor pihak swasta ini produk pupuk instan dapat dipasarkan lebih luas ke berbagai daerah.
3.    Masyarakat
Peran masyarakat terutama para peternak sapi adalah ikut serta, berpartisipasi dalam setiap kegiatan dan memberi kritik dan dukungan dalam pelaksanaan program tersebut.

F.    Tahap-Tahap Evaluasi Program
1.    Pihak Evaluator
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pembuatan pupuk instan ini perlu dlakukan evaluasi. Evaluasi tersebut bisa dilakukan oleh pihak intern maupun ekstern.
a.     Intern
Oleh pihak intern evaluasi  dilakukan oleh penyelenggara program serta komunitas masyarakat yang berpartisipasi dalam program tersebut.
b.     Ekstern
Adapun untuk evaluasi ekstern dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali.
2.    Waktu Evaluasi
a.     On Going Evaluation
On Going Evaluation merupakan evaluasi yang dilakukan ketika program masih berjalan yang bertujuan untuk mengetahui apakah program yang dilakukan memiliki manfaat atau tidak bagi komunitas masyarakat yang diberdayakan.
b.     Ex-Post Evaluation
Ex-Post Evaluation merupakan evaluasi yang dilakukan guna mengetahui apakah pihak komunitas masyarakat yang telah selesai diberdayakan melalui program tersebut dapat berkembang sesuai dengan tujuan program yang diharapkan. Misalnya dalam program ini apakah masyarakat sudah mampu untuk mengolah limbah kotoran sapi ternaknya menjadi pupuk instan yang lebih praktis, memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik serta memiliki nilai jual yang tinggi, sehinga pada evaluasi ini dapat diketahui apakah program ini layak untuk diterapkan dan digunakan untuk kedepannya.

G.   Hasil Evaluasi
Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, secara umum program ini telah berjalan sesuai harapan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat beberapa kendala yang ditemukan dalam jalannya program ini. Kendala tersebut antara lain :
1.  Sosialisasi kurang tepat sasaran dikarenakan ada beberapa masyarakat yang berasumsi bahwa program yang dilakukan kurang bermanfaat.
2.    Ada beberapa masyarakat yang kesulitan ketika melakukan program tersebut.
3.    Sulitnya mencari lahan yang luas sebagai pusat pengolahan pupuk instan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, kami memberikan beberapa solusi yang tepat agar program ini dapat berjalan dengan optimal dan melebihi harapan. Diantaranya ialah:
1.    Meyakinkan kepada masyarakat-masyarakat yang masih beranggapan mengenai ketidakbermanfaatan program tersebut melalui tokoh-tokoh masyarakat yang ada.
2.    Melakukan pendampingan yang lebih intensif kepada masyarakat saat melakukan pengolahan limbah ternak sapi menjadi pupuk instan agar tidak terjadi kesalahan serta untuk meminimalisir kerugian.
3.     Mengadakan kerjasama dengan warga yang memiliki lahan luas agar mau menyewakan lahannya untuk pengolahan pupuk instan tersebut. Adapun untuk biaya awal penyewaan ditanggung oleh penyelenggara, dan untuk selanjutnya dapat diambil dari hasil penjualan produk pupuk instan yang dihasilkan.

H.   Hikmah Program
Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, program ini telah memiliki presentase keberhasilan yang cukup tinggi. Maka, untuk selanjutnya kami merekomendasikan penerapan dan penindaklanjutan program ini kepada :
1.    Dinas Pertanian
Untuk melaksanakan program pembuatan pupuk instan tersebut dalam skala yang lebih besar dan berkelanjutan.
2.    Dinas Pendidikan (Dasar dan Menengah/Tinggi)
Untuk memasukkan program pembuatan pupuk instan tersebut dalam kurikulum SMK jurusan Peternakan dan Program Studi Peternakan yang nantinya ketika para siswa magang/Kuliah Kerja Nyata mereka dapat mempraktekkannya di tempat magang.

PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETERNAK SAPI SKALA KECIL DI DESA CEPOGO, BOYOLALI MELALUI PROGRAM PEMBUATAN PUPUK KANDANG INSTAN

Berkomentarlah dengan bijak :)
[-] Jangan melakukan spamming
[-] Tidak menerima URL
EmoticonEmoticon