Minggu, 19 Februari 2017

Makalah: PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETANI WANITA DI DESA POLOKARTO MELALUI PROGRAM PENGELOLAAN LAHAN PEKARANGAN RUMAH

PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETANI WANITA DI DESA POLOKARTO SUKOHARJO

A.  KOMUNITAS PETANI WANITA
Dewasa ini Indonesia menghadapi sejumlah permasalahan pembangunan ekonomi yang kompeks. Sejumlah masalah yang dimaksud mencakup kemiskinan, pendapatan rendah, pengangguran dan pembangunan ekonomi yang berjalan lambat yang dapat diatasi dengan mengelola pembangunan di berbagai sektor. Pembangunan pada hakikatnya merupakan suatu perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan yang dapat mensejahterakan masyarakat, masyarakat kecil khususnya.
Mengadakan suatu perubahan dapat dilakukan dari hal yang terkecil dahulu, yakni dari diri sendiri. Adanya keinginan untuk mengadakan suatu perubahan sudah menjadi fondasi yang kuat untuk menata kesuksesan. Dimulai dari perubahan yang dapat mensejahterakan masyarakat kecil, masyarakat suatu desa. Hal ini dapat diwujudkan dengan melakukan suatu program pemberdayaan masyarakat yang terpadu. Salah satunya yaitu melakukan pemberdayaan petani wanita yang berdomisili di desa Polokarto melalui program pengelolaan lahan pekarangan rumah.
Polokarto merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Desa Polokarto menjadi desa paling luas di kecamatan Polokarto, dengan luas lahan sekitar 823 Ha/M2. Di desa Polokarto masih banyak terdapat lahan persawahan, perkebunan dan lahan yang masih kosong. Hasil utama dari persawahan yakni padi, sedangkan hasil utama dari perkebunan adalah karet. Akan tetapi masih banyak warga yang belum memanfaatkan lahan miliknya untuk ditanami tumbuhan konsumsi. Salah satunya yakni lahan pekarangan rumah.  Lahan tersebut dibiarkan saja dan tidak ditanami tumbuhan konsumsi (sayuran, palawija).
Dengan banyaknya lahan yang kosong tersebut, sangat berpotensi apabila dimanfaatkan untuk ditanami sayuran ataupun tumbuhan konsumsi lainnya. Hal ini didukung dengan tersedianya tanah yang subur dan sungai-sungai yang mengalir di beberapa dusun. Dengan curah hujan yang cukup akan memudahkan untuk menanami tumbuhan konsumsi.
Rata-rata kepala keluarga (ayah) di desa Polokarto berprofesi sebagai buruh tani. Yang artinya mereka tidak menggarap tanah milik mereka sendiri, melainkan tanah orang lain. Pekerjaannya hanya tergantung dari pemilik tanah yang membutuhkan tenaganya. Apabila tidak ada panggilan kerja, mereka hanya bekerja serabutan. Tak jarang juga mereka menganggur. Penghasilan yang di dapat dari buruh tani pun masih kurang dan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apabila istrinya tidak bekerja. Oleh karena itu, penulis tergerak untuk memberdayakan para ibu (istri) dari para buruh tani tersebut agar mampu membantu perekonomian keluarga sehingga ketahan pangan keluarga dapat terwujud.

B.  KEARIFAN LOKAL KOMUNITAS PETANI WANITA
Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat pedesaan  merupakan hasil dari kebiasaaan masyarakat setempat atau kebudayaan masyarakat sebagai bentuk adaptasi terhadap alam dan lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat menggunakan cara-cara tersendiri untuk mengelola alam dan lingkungan. Kebiasaan-kebiasaaan itu kemudian membentuk dengan apa yang disebut dengan kearifan lokal.
Program pemberdayaan petani wanita ini sejalan dengan berlangsungnya kearifan lokal di masyarakat. Karena ini merupakan program pemberdayaan terpadu, sebisa mungkin tidak menimpulkan efek hilangnya kearifan lokal yang telah hidup di desa Polokarto. Program ini telah disusun dengan mempertimbangkan berbagai aspek sehingga bisa selaras dengan upaya pelestarian kearifan lokal.
Salah satu kearifan lokal yang ada di desa Polokarto yaitu rata-rata warganya yang bekerja sebagai buruh tani dan petani. Seperti sudah menjadi tradisi bahwa sejak dari kecil, masyarakat diajarkan mengenai tata cara bertani atau menggarap sawah. Makna dari kearifan lokal ini ialah sebagai pengembangan sumber daya manusia. Sebagai contoh yaitu masyarakat membuat pupuk kendang dan pupuk kompos sendiri untuk digunakan di sawah yang digarapnya.
Adapun kearifan lokal yang lain yaitu masyarakat desa Polokarto yang masih menanam singkong, ketela dan jagung di kebun. Meskipun masih dalam skala kecil, tapi hal ini sudah termasuk dalam upaya pelestarian sumber daya alam dalam bidang ketahanan pangan skala rumahan.

C. USULAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS
1.    Nama Program
Lahan pekarangan yang tersedia cukup banyak, ditunjang dengan tanah yang subur dan air yang melimpah, sangat berpotensi apabila dimanfaatkan untuk dijadikan aset bagi pengembangan usaha pertanian berskala rumah tangga. Penulis beinisiatif untuk memberdayakan petani wanita untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Penulis mengusulkan program “Pemberdayaan Komunitas Petani Wanita di Desa Polokarto Melalui Program Pengelolaan Lahan Pekarangan Rumah”.
2.    Tujuan Program
Program ini bertujuan untuk memberdayakan petani wanita agar mampu mengolah lahan pekarangan rumahnya dengan ditanami tumbuhan konsumsi. Selain untuk menciptakan ketahanan pangan dalam keluarga, juga diharapkan mampu meningkatkan penghasilan keluarga.
Sejalan dengan tujuan diatas, program ini juga dapat melestarikan kearifan lokal yang tumbuh di desa Polokarto. Adapun fungsi dari kearifan lokal sendiri yakni untuk melestarikan sumber daya alam yang ada dan meningkatkan produktivitas dan sumber daya manusia bagi masyarakat sekitar.
3.     Sasaran Program
Sasaran utama dari program ini yakni buruh tani wanita, petani wanita ataupun ibu rumah tangga yang berdomisili di desa Polokarto. Tidak ada batasan mengenai usia dari sasaran program. Siapa saja bisa bergabung dalam program ini, meskipun hanya untuk mendapatkan sosialisasi saja.
4.    Deskripsi Pelaksanaan Program
Program ini diawali denga dilaksanakannya sosialisasi kepada warga mengenai adanya potensi yang terdapat di lahan pekarangan rumah, macam-macam tumbuhan konsumsi yang laku di pasaran, tata cara menanam tumbuhan konsumsi, pemilihan pupuk yang bagus dan pemasaran hasil dari tanaman konsumsi. Setelah sosialisasi, target sasaran program akan diberi pelatihan mengenai cara mengolah tanah, menanam tanaman dan cara membuat pupuk kompos.
Kemudian, petani wanita akan diberi bantuan berupa bibit tanaman, pupuk dan pengusir hama serta alat-alat penunjang pengolahan tanah. Untuk pemasarannya sendiri, warga membentuk sebuah jaringan pasar yang terhubung dengan pedagang-pedagang sayuran dan palawija di beberapa pasar kecamatan Polokarto.
Dengan sosialisasi, pelatihan dan bantuan tersebut diharapkan petani wanita desa Polokarto dapat mandiri dan mengembangkan usahanya secara gotong royong dengan menggunakan asas kekeluargaan.

D. TAHAP-TAHAP PEMBERDAYAAN KOMUNITAS
     1.    Awakening atau Penyadaran
Awal dari tahap ini yakni memberian sosialisasi mengenai permasalahan ekonomi negara Indonesia yang semakin Kompleks. Perlu diadakannya suatu terobosan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya yakni program pemberdayaan petani wanita. Perlu diciptakannya suatu kesadaran untuk memanfaatkan segala potensi secara bijaksana. Oleh karena itu, pada tahap awal sosialisasi ini berisi tentang penyadaran akan potensi yang ada, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Tahap kedua yakni sosialisasi tentang bentuk program pemberdayaan, tujuan program, manfaat, waktu pelaksanaan dan alur pelaksanaan.
Sosialisasi tersebut ditempuh dengan mengadakan pertemuan formal dengan aparat desa dan tokoh – tokoh masyarakat. Selanjutnya, diadakan pertemuan informal dengan cara kunjungan rumah. Sosialisasi juga disebarkan melalui pemasangan spanduk, pamflet dan selebaran agar semua kalangan dapat mengetahui tentang program yang akan dilaksakan. Hal ini dimaksudkan untuk membuat masyarakat sadar tentang keadaan dan kebutuhan mereka di era globalisasi ini serta sadar akan potensi yang mereka miliki dalam tanah desa Polokarto untuk membentuk suatu ketahanan pangan dalam keluarga.
     2.    Understanding atau Pemahaman
Pada tahap understanding, petani wanita diberi pemahaman lebih lanjut tentang program pemberdayaan ini. Ditanamkan lagi dalam pikiran petani bahwa program ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Selanjutnya, diadakan berbagai macam pelatihan bersama di desa Polokarto, seperti pemilihan bibit yang baik, tata cara menanam, membuat pupuk organik, pemilihan pestisida, cara perawatan tanaman dan pemasaran/distribusi hasil bercocok tanam.
Fasilitator bersama dinas terkait beserta masyarakat kemudian merumuskan mekanisme atau aturan-aturan yang terkait dengan program. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat paham bagaimana pelaksanaan program, memberikan pemahaman berupa wawasan pengetahuan, kecakapan ketrampilan agar terbuka wawasan dan memberikan ketrampilan dasar. Kemudian juga dilaksanakan pemberian bantuan berupa bibit unggul, pupuk tanaman dan alat-alat penunjang bercocok tanam.
     3.    Harnessing atau pemanfaatan
Setelah melewati tahap penyadaran dan pemahaman, diharapkan petani wanita di desa Polokarto dapat mengimplementasikannya sendiri di lahan pekarangan rumah masing-masing. Perlu adanya keputusan dari petani wanita yang bersangkutan untuk menggunakan segala ilmu yang didapat dari kedua tahap sebelumnya bagi kepentingan komunitasnya.
Pada tahap ini juga petani wanita mulai memanfaatkan bantuan dari pemerintah (berupa bibit, pupuk dan alat-alat) di lahan pekarangan rumah masing-masing. Selama tahap harnessing berlangsung, pihak fasilitator dan dinas yang terkait (pertanian) akan senantiasa mendampingi warga untuk memberikan bantuan serta arahan jika diperlukan.
      4.    Using atau menggunakan
Pada tahap ini, diharapkan masyarakat sudah dapat berjalan sendiri dan melanjutkan program pemberdayaan dengan ketrampilannya yang mereka dapatkan. Pihak fasilitator dan dinas terkait perlahan mulai melepaskan petani wanita dengan tujuan agar dapat mandiri.
Pemandirian ini dimaksudkan agar petani wanita di desa Polokarto dapat meningkatkan kemampuan intelektual dan ketrampilan yang dimilikinya. Sehingga akan terbentuk kreatifitas dan kemampuan inovatif dalam perawatan tanaman.

E.  PIHAK - PIHAK PELAKSANA PEMBERDAYAAN KOMUNITAS
Dalam pelaksanaan program, dibutuhkan berbagai pihak yang turut serta dan membantu agar program ini dapat berjalan secara maksimal, antara lain :
1.  Pemerintah
Peran pemerintah dalam pemberdayaan ini yang pertama yakni memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di desa Polokarto. Yang kedua, menetapkan mekanisme atau aturan-aturan dalam program pemberdayaan komunitas petani wanita. Ketiga, Pemerintah juga berperan sebagai fasilitator atau pihak yang mendanai segala kebutuhan yang diperlukan. Keempat yakni melakukan pengawasan/monitoring dan melakukan evaluasi terhadap program pemberdayaan ini.
2.  Swasta
Peran dari pihak swasta yaitu meberikan investasinya berupa alat maupun pupuk kepada petani. Peran lainnya yakni sebagai pembantu pemasaran/distributor hasil pertanian sehingga dapat dipasarkan secara luas. Peran yang terakhir yakni ikut melakukan monitoring dengan variabelnya sendiri dan melakukan evaluasi.
3.  Masyarakat
Masyarakat, terutama petani wanita berperan sebagai pelaksana program dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Untuk masyarakat secara keseluruhan dapat memberi kritik, saran atau masukan tentang pelaksanaan program serta dapat memberikan dukungan demi kelancaran program ini.


F.  TAHAP – TAHAP EVALUASI PROGRAM
Evaluasi berguna untuk mengetahui pencapaian tujuan suatu hal atau program dengan langkah mengetahui keterlaksanaan kegiatan program tersebut.
1.    Pihak Intern
Pada evaluasi intern, pengambilan inisiatif diadakannya evaluasi maupun pelaksanaan evaluasi adalah orang yang terlibat langsung dalam program. Dalam hal ini, pihak ketiga yang terlibat langsung adalah pemerintah dan dari peneliti sendiri. Dari pihak intern, tahapan dalam evaluasi program dilakukan dengan :
a)  Memastikan jalannya program sesuai dengan prosedur kegiatan yang telah ditentukan,
b)  Memastikan bahwa masyarakat mendapatkan ketrampilan tentang pemanfaatan pekarangan rumah secara intensif,
c)  Mengatasi segala masalah dan hambatan dalam pelaksanaan setiap kegiatan.
2.     Pihak Ekstern
Evaluasi ekstern adalah evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar (di luar organisasi pemilik/pelaksana program), meskipun inisiatif dilakukannya evaluasi dapat muncul dari kalangan orang luar, atau justru diminta oleh organisasi pemilik/pelaksana program yang bersangkutan. Dalam hal ini, pihak ekstern yaitu masyarakat desa Polokarto. Evaluasi dari pihak ekstern yakni melakukan pengamatan tentang pelaksanaan program ini, apakah bertentangan dengan nilai, tradisi dan kearifan lokal yang ada di desa Polokarto.
3.    On-Going Evaluation
On-Going Evaluation yaitu evaluasi yang dilakukan pada saat program atau kegiatan itu masih/sedang berlangsung. Evaluasi ini dilakukan dengan tujuan :
a)  Mengetahui apakah terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan program,
b)  Mengetahui adakah kekurangan yang ada dalam program ini.
4.    Ex-Post Evaluation
Ex-Post Evaluation yaitu evaluasi yang dilaksanakan pada saat program atau kegiatan yang direncanakan telah selesai dikerjakan. Evaluasi ini dilakukan untuk :
a)  Mengetahui manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan,
b)  Memastikan masyarakat mampu untuk melaksanakan kegiatan secara mandiri dan berkelanjutan.

G.    HASIL EVALUASI PROGRAM
Dari pengalaman implementasi  program  pemanfaatan  lahan  pekarangan  diakui masih  dijumpai  sejumlah  kendala.  Berdasarkan  hasil evaluasi, menunjukkan bahwa minimal ada tiga kendala yang dihadapi dalam  pelaksanaan  program  pemanfaatan  lahan  pekarangan rumah, yaitu:
1.    Kondisi sosial-budaya  masyarakat  desa Polokarto yang  belum  terbiasa melakukan pemanfaatan lahan pekarangan rumah secara  intensif,
2.    Kondisi sumber daya alam yang belum begitu terekspolari, sehingga masyarakat lebih  mengutamakan menggunakan lahan non-pekarangan  untuk  memperoleh  uang tunai,
3.    Kurangnya  tenaga  pendamping, dana  dan  bantuan mengakibatkan terhambatnya program ini berlangsung.

H.    HIKMAH PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS
     1.    Meningkatkan Ketrampilan
Manfaat besar dari program pemberdayaan masyarakat ini adalah memungkinkan petani wanita di desa Polokarto dapat memunculkan bakat atau kemampuan terpendam dalam setiap diri individu. Program pemberdayaan telah banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dengan adanya program pemberdayaan ini masyarakat telah diberikan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan, mutu, tehnik, ketrampilan serta kecakapan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam pekerjaan sehari-hari.
      2.    Meningkatkan kesejahteraan
Kesejahteraan merupakan keadaan yang normal baik dalam segi sosial, ekonomi maupun segi psikologi. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan seseorang adalah keadaan ekonominya.
Dengan adanya program pemberdayaan ini maka petani wanita di desa Polokarto akan memperoleh pengalaman dalam menanam sayuran, pengalaman inilah yang dapat digunakan masyarakat untuk mengembangkan usaha pengelolaan lahan pekarangan rumahnya. Untuk hasil dari menanam sayuran dan tanaman konsumsi lainnya ini dapat dijual di pasar, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan ketahanan pangan dalam keluarga.
      3.    Meningkatkan sifat partisipatif (semangat berorganisasi)
Partisipasi adalah keikutsertaan atau keterlibatan yang berkaitan dengan keadaan lahiriahnya. Pemberdayaan menekankan partisipasi masyarakat untuk memecahkan permasalahan secara bersama, sehingga program pemberdayaan ini akan meningkatkan sifat partisipatif seseorang.

DAFTAR PUSTAKA
Kun Maryati dan Juju Suryawati. 2014. Sosiologi. Jakarta: Erlangga.
Batas Wilayah Desa Polokarto. http://polokartosukoharjo.desa.kemendesa. go.id/index.php/pages/detail/59-batas-wilayah. (Diakses pada tanggal 15 Januari 2017).
Pengertian Teori Evaluasi dalam Penelitian. http://budidarma.com/2012/01/ pengertian-teori-evaluasi-dalam-penelitian.html. (Diakses pada tanggal 17 Januari 2017)

Berkomentarlah dengan bijak :)
[-] Jangan melakukan spamming
[-] Tidak menerima URL
EmoticonEmoticon