Sabtu, 14 November 2015

Teks Cerita Ulang Kenakalan Remaja (Tawuran) + Analisis

Teks Cerita Ulang Kenakalan Remaja (Tawuran) + Analisis


Contoh Teks Cerita Ulang

TAWURAN PELAJAR : TUNJUK JARI, TEPUK DADA SENDIRI

Sedikit flashback ke tahun 1988, saat saya baru saja memakai seragam baru putih abu – abu. Bagi remaja di Jakarta, masuk SMA 70 jelas sebuah kebanggaan. Sekolah favorit gitu lho. NEM nya harus diatas 41, dari SMP saya saja Cuma tiga orang termasuk saya yang lolos. Hari pertama masuk sekolah, berangkat naik bis S 74 dari rumah saya di Tanah kusir, turun di halte bulungan depan kantor kejaksaan. Saya pastikan diri saya berpenampilan serapih mungkin. Bibir pun entah kenapa tidak bosan melebar manis. Makin dekat ke pintu gerbang sekolah, makin lebar saja ini bibir tersenyum. Tiba – tiba mendadak sontak, keadaan berubah 180 derajat. Entah bagaimana awalnya, kerah baju baru saya kusut direngut, disusul bentakan nyaring, “Ngapain lo cengar cengir, nantangin gua? Mau jadi jagoan?” Plak!! Kepala terhuyung karena di keplak. Welcome to the jungle! Alhasil saya bisa lolos dari trouble maker, kakak kelas saya sendiri setelah dipaksa metraktir semangkuk mie ayam di kantin. Dan siang itu dengan perasaan masih shock, saya hanya minum es teh manis saat jam istirahat. Persoalan ternyata tidak berhenti disitu. 

Setelah habis waktu keluar main, ketika baru duduk dibangku, datanglah prahara ke dua. Segerombolan anak Laskar julukan angkatan diatas kami, masuk kelas dan mulai menebar teror. Mulai dari bentakan, cipratan ludah hingga tamparan mendarat di pipi semua siswa laki – laki. Teror baru berakhir setelah guru datang. Singkat cerita, setelah bubaran sekolah, saya berjalan pulang menuju halte bulungan dan ketika ada bis jurusan Rempoa, saya langsung naik dan berdiri ditengah. Belum habis saya mengingat kejadian barusan, tiba – tiba saya menyadari bahwa saya sedang berada dalam situasi yang membahayakan. Benar saja, salah satu penumpang di bis ternyata siswa STM Penerbangan. 

Ketika bis memasuki kawasan taman puring, saya melihat ratusan siswa STM berjajar dan bergerombol. Saya hanya ingat waktu itu, anak STM yang ada di bis tadi berteriak memanggil kawan – kawannya diluar bahwa ada anak 70, yang tidak lain adalah saya. Bak serigala – srigala lapar, mereka berlompatan masuk ke dalam bis. Bisa ditebak apa yang terjadi, pukulan, sundutan rokok, tusukan obeng bertubi – tubi menghujami badan saya. Seragam baru saya berlumuran darah. Tidak puas sampai disitu, saya di seret dan ditendang keluar bis tanpa seorangpun berani melindungi saya. Bahkan sopir bis segera melarikan bisnya meninggalkan saya. Saat itu saya hanya sanggup berdoa, pasrah dipukuli, di timpa batu, di injak – injak. Saya masih mendengar sayup – sayup teriakan seorang ibu, “ Sudah lah sudah, kasian itu anak, jangan – jangan sudah mati.” Ya betul bu, hari itu, hari pertama saya masuk sekolah, saya sudah mati rasa. Bukan sakit karena penganiayaan fisik yang saya rasakan waktu itu. 

Semenjak saat itu, misi saya berangkat sekolah bukan lagi untuk belajar. Pertanyaannya bukan lagi besok belajar apa, tapi besok anak STM mana yang harus saya hajar, yang harus merasakan penderitaan yang saya alami. Setelah dirawat tiga hari, saya sudah tidak tahan untuk segera berangkat ke sekolah. Bukan mau belajar, tapi membuat perhitungan. Demikian awal dari keterlibatan saya masuk ke lingkaran setan tradisi tawuran yang sama sekali tidak jelas. Mungkin pengalaman saya termasuk sebab akibat yang ekstrim. Tapi ini bisa mewakili sebuah gambaran bahwa tawuran pelajar adalah produk rusak dari masyarakat yang sudah rusak. Lingkungan lah yang membuat remaja kita rusak. Kalau mau semua pihak berbesar hati, kerusakan mental dan perilaku remaja adalah buah dari sistem kehidupan sosial yang sudah rusak. Hukuman penjara seharusnya adalah langkah terakhir yang harus ditempuh setelah kita semua berupaya sungguh – sungguh untuk membenahi diri, memperbaiki keluarga dan seterusnya masyarakat yang lebih luas. (sumber cerita : Kompasiana)

Analisis  

1. Struktur
Teks tersebut memiliki struktur yang sudah lengkap dan berurutan. Terdiri dari :
  • Orientasi     : Terletak pada kalimat, "Sedikit flashback..."
  • Peristiwa     : Terletak pada kalimat, "Hari pertama masuk sekolah..."
  • Rangkuman : Terletak pada kalimat, "Lingkunganlah yang..."
2. Ciri-ciri
Teks tersebut telah memenuhi kriteria sebagai teks cerita ulang yang ideal karena telah memenuhi cirinya yakni, sebagai berikut :
  • Jenisnya     : nonfiksi 
  • Sifatnya      : obyektif
  • Sumbernya : faktual 
3. Bahasa
Menggunakan bahasa yang informatif karena mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca.

4. Tujuan
  • Informatif : menginformasikan bagaimana remaja bisa terjerumus dalam tawuran
  • Persuasif : mengajak untuk memperbaiki mental dan perilaku remaja karena pengaruh lingkungannya.  

Itulah analisis dari teks cerita ulang yang bertema tentang kenakalan remaja yang berupa tawuran pelajar. Semoga Cerita Ulang Tema Kenakalan Remaja ini bermanfaat!

Berkomentarlah dengan bijak :)
[-] Jangan melakukan spamming
[-] Tidak menerima URL
EmoticonEmoticon